Senyum Kemenangan
Oleh : Iip Saripudin
Kebersamaan menuangkan pemikiran berharap menjadi suatu keharusan yang tak dapat ditawar lagi. Menyamakan persepsi tentang langkah kedepan dengan terobosan –terobosan dalam menyelesaikan berbagai persoalan merupakan harapan, sehingga dapat membuat perubahan keadaan menuju arah yang lebih baik serta berguna bagi makhluk hidup dibumi pertiwi ini.
Secercah harapan berawal dari sini, di tempat kita tegak berdiri, dimana kita dapat mengatakan dan mengabarkan realita kehidupan yang sesunggguhnya tengah terjadi. Perubahan menuju arah yang lebih baik bukanlah hanya slogan untuk menarik simpati dengan tujuan sesaat, namun haruslah merupakan niat tulus demi terwujudnya suatu impian masa depan yang di dambakan seluruh rakyat di negeri ini. Keberanian untuk membenahi diri dan memperkokoh kesatuan dengan berbagai tindakan nyata adalah langkah mulia yang patut di dukung sepenuhnya serta di dorong pelaksanaannya oleh berbagai pihak.
Lakukan apa yang harus dilakukan, karena ini merupakan awal dari kepedulian yang tercermin dalam pranata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur sesuai yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
Kemajemukan merupakan anugerah dari sang kuasa, perbedaan pendapat akan menuai hikmah yang sudah seharusnya disikapi secara bijak.
Regenarasi harus tetap berjalan dengan berbagai langkah nyata sebagai pembinaan sikap berpikir serta memberikan peluang yang selebar-lebarnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pengembangan wawasan sebagai bekal menuju harapan masa depan dengan persiapan yang matang dan tak mudah dimentahkan.
Kompetisi dalam kehidupan terus bergulir, kompetensi diri menjadi syarat untuk menjalani pergulatan angan-angan.
Semangat yang berkobar-kobar, keinginan yang menyala-nyala, semoga tak ternodai sikap arogansi demi kepentingan pribadi atau sekelompok tertentu dengan mengorbankan banyak pihak.
Pada hakekatnya manusia mempunyai keinginan yang tak berbeda yakni hidup rukun, damai, tentram dengan mendapatkan keadilan yang nyata, hidup layak diantara sesamanya, mendapatkan perlakuan yang baik dan terpenuhi kebutuhan hidupnya.
Perbedaan pemikiran hanyalah dekorasi kehidupan, hanya riak ombak yang gejolaknya mesti disikapi secara arif dan bijaksana, sehingga anarkisme sebagai bentuk ketidak puasan yang memuncak dapat diredam. Bukan dengan janji-janji, bukan pula hanya dengan tutur kata, namun dengan langkah-langkah nyata yang dapat memberikan kesejukan dan kenyamanan. Perbedaan hanyalah proses dalam pencapaian, perdebatan merupakan nyanyian kehidupan, dan kebersamaan adalah harmonisasi dalam arah tujuan.
Perbedaan pandangan hanya hal biasa yang senantiasa dijumpai dalam bingkai ideologi yang menimbulkan perhelatan tiada henti untuk mencapai tujuan yang di impikan, yang berharap menjadi landasan bagi keberlangsungan hidup di bumi ini.
Semoga semua berharap, suatu hari nanti hadir diantara kita pemikiran-pemikiran jenius sehingga memunculkan perspektif yang belum pernah ada sebelumnya, meski tak mudah untuk dapat menerimanya dalam realitas kehidupan yang majemuk.
Sepantasnyalah pemikiran-pemikiran yang mengarah pada suatu pembaharuan tidak dipandang serta-merta negatif, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan yang berlebihan serta berdampak pada pengkerdilan hak manusia untuk berbicara dan berpendapat.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki rasa, hasrat, naluri, emosi, dan sikap bijaksana. Gaya hidup merupakan pilihan, dan keinginan bukanlah akhir dari tujuan. Hari depan adalah harapan, hari ini adalah kenyataan, dan hari yang telah berlalu sebaiknya dijadikan guru yang berharga dalam kehidupan. Jika hari ini kalian bernaung diupuk barat, biarlah sebagian yang lainnya merajut harapan dari arah timur. Bagi kalian yang tegak dari utara jangan lupa bertutur kata pada kerabat-kerabat diselatan sana. Dan semoga suatu masa semua dapat berjabat tangan di titik tujuan dengan senyum kemenangan.
Proklamasi Kemerdekaan hanya awal dari kemenangan, karena kemenangan yang sesungguhnya baru sekedar harapan dan impian yang masih harus tetap diupayakan dan terus diperjuangkan.
Senin, 10 Agustus 2009
Rabu, 05 Agustus 2009
Arah Pemikiran
Penguasa Ideal
Menurut plato, penguasa ideal adalah seorang penguasa yang sanggup menyatukan kekuasaan politik dengan kecerdasan, kearifan dan pengetahuan yang tinggi. Dan kecerdasan, kearifan dan pengetahuan yang tinggi itu hanya dapat ditemukan di dalam diri seorang filsuf, oleh sebab itu seorang penguasa ideal haruslah seorang filsuf. Hanya filsuf-raja yang akan dapat memimpin negara dengan hikmat dan kearifan sejati (true wisdom), karena hanya seorang filsuf-raja yang mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi negara.
Aristoteles, yang berpendapat bahwa bentuk pemerintahan negara yang terbaik bagi hukum yang terbaik ialah politea, yang berada diantara oligarki dan demokrasi, mengatakan, janganlah orang-orang kaya seperti dalam bentuk oligarki yang menjadi penguasa, tetapi juga jangan orang-orang miskin seperti dalam bentuk demokrasi yang menjadi penguasa. Bagi Aristoteles, penguasa ideal ialah mereka yang berada di antara kudua golongan itu, yakni golongan menengah, yang biasa memanggul senjata.
Menurut Machiavelli, seorang penguasa ideal ialah seorang penguasa yang harus sanggup menjadi panglima militer yang cakap dan terampil serta yang benar-benar dapat mengendalikan angkatan perang dengan baik. Selain itu seorang penguasa ideal haruslah seorang yang pandai tetapi juga yang sangat cerdik menggunakan kekuasaan. Penguasa ideal itu harus sanggup menggunakan kekuasaan dengan memanfaatkan hal-hal yang dianggap baik dan terpuji tetapi juga ha-hal yang dianggap jahat dan tak terpuji. Ia harus dapat berperan sebagai manusia maupun sebagai binatang. Dan kesemuanya itu hanya merupakan alat yang digunakan untuk meraih tujuan yang mulia yaitu kesatuan, keutuhan dan kejayaan negara yang pada akhirnya akan mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Dikutip dari buku:
Filsafat Politik. J.H.RAPAR
Anda berada dimana, dan mau kemana?
Menurut plato, penguasa ideal adalah seorang penguasa yang sanggup menyatukan kekuasaan politik dengan kecerdasan, kearifan dan pengetahuan yang tinggi. Dan kecerdasan, kearifan dan pengetahuan yang tinggi itu hanya dapat ditemukan di dalam diri seorang filsuf, oleh sebab itu seorang penguasa ideal haruslah seorang filsuf. Hanya filsuf-raja yang akan dapat memimpin negara dengan hikmat dan kearifan sejati (true wisdom), karena hanya seorang filsuf-raja yang mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi negara.
Aristoteles, yang berpendapat bahwa bentuk pemerintahan negara yang terbaik bagi hukum yang terbaik ialah politea, yang berada diantara oligarki dan demokrasi, mengatakan, janganlah orang-orang kaya seperti dalam bentuk oligarki yang menjadi penguasa, tetapi juga jangan orang-orang miskin seperti dalam bentuk demokrasi yang menjadi penguasa. Bagi Aristoteles, penguasa ideal ialah mereka yang berada di antara kudua golongan itu, yakni golongan menengah, yang biasa memanggul senjata.
Menurut Machiavelli, seorang penguasa ideal ialah seorang penguasa yang harus sanggup menjadi panglima militer yang cakap dan terampil serta yang benar-benar dapat mengendalikan angkatan perang dengan baik. Selain itu seorang penguasa ideal haruslah seorang yang pandai tetapi juga yang sangat cerdik menggunakan kekuasaan. Penguasa ideal itu harus sanggup menggunakan kekuasaan dengan memanfaatkan hal-hal yang dianggap baik dan terpuji tetapi juga ha-hal yang dianggap jahat dan tak terpuji. Ia harus dapat berperan sebagai manusia maupun sebagai binatang. Dan kesemuanya itu hanya merupakan alat yang digunakan untuk meraih tujuan yang mulia yaitu kesatuan, keutuhan dan kejayaan negara yang pada akhirnya akan mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Dikutip dari buku:
Filsafat Politik. J.H.RAPAR
Anda berada dimana, dan mau kemana?
Selasa, 04 Agustus 2009
Trilogi Hikmah Abadi
Pesan-pesan Peninggalan Sang Guru
Tuhan telah menganugrahkan kecerdasan dan pengetahuan kepadamu. Janganlah kamu padamkan pelita cinta itu dan jangan biarkan lilin kearifan mati dalam kegelapan nafsu dan kesalahan. Karena orang bijak mendekati manusia dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia.
Ingatlah, hanya seorang pimpinan penjahat lebih kuat daripada sejuta orang beriman yang buta.
Sedikit pengetahuan yang dilaksanakan jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan tapi tak digunakan.
Jika pengetahuanmu tidak mengajarkan nilai segala sesuatu, dan tidak membebaskan dari belenggu materi, maka engkau tidak akan pernah mendekati singgasana kebenaran.
Jika pengetahuan tidak mengajarimu untuk menghilangkan derita manusia dan tidak membimbing para pengikutmu di atas jalan yang benar, sungguh engkau adalah orang yang tidak berharga dan akan tetap demikian hingga ajal tiba.
Pahamilah kata-kata bijak yang diucapkan oleh orang-orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri. Hidupkanlah kata-kata itu-tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan-perbuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami, tidak lebih baik dari seekor keledai yang mengangkut buku-buku.
Dikutip dari buku Trilogi Hikmah Abadi.
Judul asli : Jubran Khalil Jubran:
An-Naby wa Al-Hadiqatu An-naby, Kairo(t.p.), 1971
Tuhan telah menganugrahkan kecerdasan dan pengetahuan kepadamu. Janganlah kamu padamkan pelita cinta itu dan jangan biarkan lilin kearifan mati dalam kegelapan nafsu dan kesalahan. Karena orang bijak mendekati manusia dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia.
Ingatlah, hanya seorang pimpinan penjahat lebih kuat daripada sejuta orang beriman yang buta.
Sedikit pengetahuan yang dilaksanakan jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan tapi tak digunakan.
Jika pengetahuanmu tidak mengajarkan nilai segala sesuatu, dan tidak membebaskan dari belenggu materi, maka engkau tidak akan pernah mendekati singgasana kebenaran.
Jika pengetahuan tidak mengajarimu untuk menghilangkan derita manusia dan tidak membimbing para pengikutmu di atas jalan yang benar, sungguh engkau adalah orang yang tidak berharga dan akan tetap demikian hingga ajal tiba.
Pahamilah kata-kata bijak yang diucapkan oleh orang-orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri. Hidupkanlah kata-kata itu-tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan-perbuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami, tidak lebih baik dari seekor keledai yang mengangkut buku-buku.
Dikutip dari buku Trilogi Hikmah Abadi.
Judul asli : Jubran Khalil Jubran:
An-Naby wa Al-Hadiqatu An-naby, Kairo(t.p.), 1971
Filsafat Pemikiran Politik
Penyelenggaraan Kekuasaan
Aristoteles pernah mengatakan bahwa Plato tidak membedakan antara kekuasaan penguasa negara dengan kekuasaan seseorang terhadap istri dan anak-anaknya. Dengan kata lain, kekuasaan dalam negara dan kekuasaan dalam keluarga sama saja. Hal itu memang merupakan konsekuensi dari ajarannya yang mengatakan bahwa negara adalah suatu keluarga besar.
Jika kekuasaan dalam negara dan kekuasaan dalam keluarga sama saja, itu berarti para penguasa negara dalam menjalankan kekuasaannya harus menganggap setiap warga negara selaku anak-anaknya sendiri.
Plato mengatakan :
Para penguasa diamanatkan Tuhan pertama-tama dan terutama agar mereka menjadi penjaga yang baik sebaik seperti terhadap anak mereka sendiri.
Seolah-olah terhadap anaknya sendiri, para penguasa wajib merawat, memelihara, mengasuh, membina, mendidik, mengarahkan, dan melindungi setiap warga negara dengan penuh perhatian, penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Dikutip dari buku:
Fissafat Politik Plato, Aristoteles, Augustinus, Machiavelli
Aristoteles pernah mengatakan bahwa Plato tidak membedakan antara kekuasaan penguasa negara dengan kekuasaan seseorang terhadap istri dan anak-anaknya. Dengan kata lain, kekuasaan dalam negara dan kekuasaan dalam keluarga sama saja. Hal itu memang merupakan konsekuensi dari ajarannya yang mengatakan bahwa negara adalah suatu keluarga besar.
Jika kekuasaan dalam negara dan kekuasaan dalam keluarga sama saja, itu berarti para penguasa negara dalam menjalankan kekuasaannya harus menganggap setiap warga negara selaku anak-anaknya sendiri.
Plato mengatakan :
Para penguasa diamanatkan Tuhan pertama-tama dan terutama agar mereka menjadi penjaga yang baik sebaik seperti terhadap anak mereka sendiri.
Seolah-olah terhadap anaknya sendiri, para penguasa wajib merawat, memelihara, mengasuh, membina, mendidik, mengarahkan, dan melindungi setiap warga negara dengan penuh perhatian, penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Dikutip dari buku:
Fissafat Politik Plato, Aristoteles, Augustinus, Machiavelli
Minggu, 02 Agustus 2009
Gejolak Sikap
Gejolak Sikap Otak
Oleh : Iip Saripudin
Diambang batas titik jenuh, aktifitas terasa tak menentu. Terkadang apa yang telah tersirat dan timbul dalam benak menjadi bias untuk dituangkan kemudian dirangkaikan menjadi untaian kata yang dapat dengan mudah dicerna serta diapresiasikan dengan kalimat sederhana, sehingga makna yang terkandung dalam setiap ungkapan kata yang mengalir dapat dengan mudah dimengerti dan difahami arah serta tujuannya.
Harus kita sadari sepenuhnya, bahwa setiap kita mempunyai keterbatasan dalam segala hal. Namun hasrat yang tersimpan tak harus selamanya terbenam dalam jiwa dan pikiran lalu menggumpal dalam otak, bergejolak didasar hati sehingga suatu saat menimbulkan berbagai reaksi tak berkesudahan sebagai respon yang tertunda. Dan disatu sisi keinginan seakan menjadi suatu keharusan agar secepatnya terwujudkan dengan sempurna dalam kenyataan, sehingga tak hanya membuahkan angan-angan saja. Tapi akal sehatpun bicara dan menyikapi angan-angan itu, untuk berharap bahwa ini bukanlah hal prematur yang kemudian hari menjadi perdebatan panjang dengan resiko yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.
Ongkos politiknya terlalu mahal bung….!!. Berapa banyak yang harus dikorbankan demi untuk melaksanakan kehendak dengan pertimbangan yang dangkal. Begitu sang politikus berkata ketika wacana ditawarkan untuk segera digulirkan, dan berharap mengerucut pada sasaran yang diinginkan. Sementara dipojok-pojok sana para aktivis berkumpul, mereka-reka keinginan, mendesain cita-cita agar keinginannya dapat terealisasikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua itu tak semudah yang dibayangkan.
Pernyataan sikap bukanlah sesuatu yang sakral untuk segera disikapi, karena ada suatu proses dalam mempertimbangkan keputusan untuk mencapai kata akhir.
Sepakat untuk bersepakat, atau sepakat untuk tidak bersepakat hanyalah fenomena yang seharusnya menyadarkan bahwa diantara sesama kitapun akan selalu terdapat perbedaan. Namun demikian bukan berarti kebebasan berpendapat serta kebebasan untuk berbeda menjadi alasan perbuatan tanpa alasan yang jelas dan pada ekhirnya akan mengorbankan hajat hidup orang banyak.
Hati kecil berkata agar sebaiknya berbicara tentang bagaimana caranya rakyat dapat merasakan dan menikmati hasil jerih payah para pendahulu yang telah bersusah payah mengucapkan kata “MERDEKA” dengan linangan air mata serta tetesan darah tak terhingga.Bagaimana caranya rakyat dapat hidup layak dan hidup dengan layak seperti apakah yang pantas dirasakan sesuai yang diamanatkan.Bagaimana nasib generasi bangsa jika tidak diberikan peluang untuk mendapatkan kesempatan berperan aktif menyikapi berbagai persoalan yang datang menghantan tak henti-henti?. Adakah ruag yang proporsional untuk generasi muda bangsa ini?.
Sangat tidak bijak andai sikap pembodohan terhadap masyarakat masih dipertahankan, apalagi dikembangbiakkan secara sistematis sehingga menimbulkan penjajahan bentuk baru yang akan menyengsarakan rakyat banyak.
Hati kecilku berteriak memohon agar jangan membiarkan masyarakat terbelenggu dalam ketidaktahuan tentang apa yang tengah terjadi kini. Jangan biarkan anak-anak bangsa terpojok dengan rasa ketakutan.
Katakan pada penguni nusantara bahwa mereka mempunyai hak bicara dan mempunyai hak perlindungan dimata hukum.
Diantara generasi bangsa yang tumbuh hari ini akan menjadi pemimpin dan mereka akan berdiri di garda terdepan dikemudian hari. Jangan biarkan bangsa dan negara ini hancur luluh lantak hanya karena generasinya tak cerdik, baik dalam bersikap, berpikir, maupun dalam memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diikuti dan dilakukan.Dan akupun tak berharap suatu hari nanti aku bercerita kepada anak cucuku bahwa disini pernah berdiri sebuah negara yang bernama “Indonesia”.
Oleh : Iip Saripudin
Diambang batas titik jenuh, aktifitas terasa tak menentu. Terkadang apa yang telah tersirat dan timbul dalam benak menjadi bias untuk dituangkan kemudian dirangkaikan menjadi untaian kata yang dapat dengan mudah dicerna serta diapresiasikan dengan kalimat sederhana, sehingga makna yang terkandung dalam setiap ungkapan kata yang mengalir dapat dengan mudah dimengerti dan difahami arah serta tujuannya.
Harus kita sadari sepenuhnya, bahwa setiap kita mempunyai keterbatasan dalam segala hal. Namun hasrat yang tersimpan tak harus selamanya terbenam dalam jiwa dan pikiran lalu menggumpal dalam otak, bergejolak didasar hati sehingga suatu saat menimbulkan berbagai reaksi tak berkesudahan sebagai respon yang tertunda. Dan disatu sisi keinginan seakan menjadi suatu keharusan agar secepatnya terwujudkan dengan sempurna dalam kenyataan, sehingga tak hanya membuahkan angan-angan saja. Tapi akal sehatpun bicara dan menyikapi angan-angan itu, untuk berharap bahwa ini bukanlah hal prematur yang kemudian hari menjadi perdebatan panjang dengan resiko yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.
Ongkos politiknya terlalu mahal bung….!!. Berapa banyak yang harus dikorbankan demi untuk melaksanakan kehendak dengan pertimbangan yang dangkal. Begitu sang politikus berkata ketika wacana ditawarkan untuk segera digulirkan, dan berharap mengerucut pada sasaran yang diinginkan. Sementara dipojok-pojok sana para aktivis berkumpul, mereka-reka keinginan, mendesain cita-cita agar keinginannya dapat terealisasikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua itu tak semudah yang dibayangkan.
Pernyataan sikap bukanlah sesuatu yang sakral untuk segera disikapi, karena ada suatu proses dalam mempertimbangkan keputusan untuk mencapai kata akhir.
Sepakat untuk bersepakat, atau sepakat untuk tidak bersepakat hanyalah fenomena yang seharusnya menyadarkan bahwa diantara sesama kitapun akan selalu terdapat perbedaan. Namun demikian bukan berarti kebebasan berpendapat serta kebebasan untuk berbeda menjadi alasan perbuatan tanpa alasan yang jelas dan pada ekhirnya akan mengorbankan hajat hidup orang banyak.
Hati kecil berkata agar sebaiknya berbicara tentang bagaimana caranya rakyat dapat merasakan dan menikmati hasil jerih payah para pendahulu yang telah bersusah payah mengucapkan kata “MERDEKA” dengan linangan air mata serta tetesan darah tak terhingga.Bagaimana caranya rakyat dapat hidup layak dan hidup dengan layak seperti apakah yang pantas dirasakan sesuai yang diamanatkan.Bagaimana nasib generasi bangsa jika tidak diberikan peluang untuk mendapatkan kesempatan berperan aktif menyikapi berbagai persoalan yang datang menghantan tak henti-henti?. Adakah ruag yang proporsional untuk generasi muda bangsa ini?.
Sangat tidak bijak andai sikap pembodohan terhadap masyarakat masih dipertahankan, apalagi dikembangbiakkan secara sistematis sehingga menimbulkan penjajahan bentuk baru yang akan menyengsarakan rakyat banyak.
Hati kecilku berteriak memohon agar jangan membiarkan masyarakat terbelenggu dalam ketidaktahuan tentang apa yang tengah terjadi kini. Jangan biarkan anak-anak bangsa terpojok dengan rasa ketakutan.
Katakan pada penguni nusantara bahwa mereka mempunyai hak bicara dan mempunyai hak perlindungan dimata hukum.
Diantara generasi bangsa yang tumbuh hari ini akan menjadi pemimpin dan mereka akan berdiri di garda terdepan dikemudian hari. Jangan biarkan bangsa dan negara ini hancur luluh lantak hanya karena generasinya tak cerdik, baik dalam bersikap, berpikir, maupun dalam memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diikuti dan dilakukan.Dan akupun tak berharap suatu hari nanti aku bercerita kepada anak cucuku bahwa disini pernah berdiri sebuah negara yang bernama “Indonesia”.
Pemekaran
Keberhasilan DPRD dan Pemda Kab.Sukabumi dlm melaksanakan program pemekaran kabupaten Sukabumi merupakan bukti awal dari kepedulian kpd masyarakat kab.Sukabumi.Semoga hal tsb meningkatkan kesejahteraan masy, serta dpt membuka peluang kerja dan wirausaha yg selebar-lebarnya,shg dpt menopang keberhasilan pembangunan disegala bidang.
Langganan:
Komentar (Atom)

